10 Pertanyaan Sulit Saat Melamar di Amazon

10 Pertanyaan Sulit Saat Melamar di Amazon

Amazon adalah perusahaan belanja berbasis daring yang didirikan oleh Jeff Bezos dan berkantor pusat di Seattle, AS. Kesuksesan Amazon berhasil mengantar Bezos menjadi orang terkaya di dunia, mengalahkan pendiri Microsoft Bill Gates.

Namun, bekerja di Amazon dan menjadi karyawan Bezos bukan perkara mudah. Sebab, Anda harus siap-siap menghadapi pertanyaan yang rumit saat sesi wawancara kerja.

Alasannya, Amazon ingin merekrut orang-orang yang tepat. Hal ini pun diakui sendiri oleh Bezos.

"Lebih baik saya mewawancara 50 orang dan tidak merekrut lagi ketimbang merekrut orang yang salah," ujar Bezos seperti dikutip dari Inc.com, Kamis (8/2/2018).

Bezos pun punya kebiasaan mewawancara sendiri kandidat karyawannya, guna memastikan hanya orang-orang yang tepat yang dapat membuat perusahaan semakin maju.

Nah, seperti apa sebenarnya pertanyaan yang diajukan Amazon pada saat wawancara kerja? Berikut ini adalah 10 pertanyaan tersulitnya.

1. Jeff Bezos masuk ke ruang kerja Anda dan mengatakan Anda bisa dapat jutaan dollar AS untuk meluncurkan ide wirausaha Anda. Apakah ide tersebut? (Diajukan kepada kandidat Product Development Specialist)

2. Jika Anda ikut turnamen bersama 5.263 orang, berapa banyak babak permainan yang dibutuhkan untuk menetapkan pemenang? (Diajukan kepada kandidat Area Manager)

3. Metrik apa yang Anda gunakan untuk mendorong perubahan? (Diajukan kepada kandidat Senior Product Manager)

4. Apakah Anda akan melawan atasan yang membuat keputusan yang melanggar kebijakan perusahaan dan menjadi potensi isu keamanan bagi salah satu karyawan Anda? (Diajukan kepada kandidat Area Manager)

5. Ceritakan tentang proyek yang melebihi cakupan pekerjaan Anda. (Diajukan kepada kandidat Marketing Specialist)

6. Ceritakan tentang pengalaman Anda menangani ambiguitas. (Diajukan kepada kandidat Investigation Specialist)

7. Jelaskan situasi di mana Anda harus membut keputusan tanpa menggunakan data. (Diajukan kepada kandidat Senior Investigation Specialist)

8. Mengapa kami harus merekrut Anda? (Diajukan kepada kandidat Transaction Risk Investigator)

9. Bagaimana Anda memotivasi orang lain? (Diajukan kepada kandidat Graduate Area Manager)

10. Apa rencana Anda untuk terus memastikan bahwa fokus Anda adalah memperbaiki pengalaman konsumen? (Diajukan kepada kandidat Senior Technical Writer)

4 Tips Membeli Apartemen Bagi Milenial

4 Tips Membeli Apartemen Bagi Milenial

Membeli hunian, baik itu apartemen atau rumah tapak, belum menjadi pertimbangan utama bagi generasi milenial.

Padahal faktanya, harga properti setiap tahun mengalami kenaikan yang cukup signifikan, bila dibandingkan pertumbuhan penghasilan.

Tentunya, menunda bukanlah pilihan bijak bagi generasi milenial. Di tengah kegalauan membeli hunian, apartemen bisa menjadi sebuah pilihan.

Selain memiliki akses yang relatif dekat dengan kota, apartemen juga lebih sesuai dengan gaya hidup milenial.

Namun, sebelum memutuskan membeli apartemen, ada baiknya memperhatikan hal-hal berikut:

1. Lokasi

Pilihlah lokasi yang paling strategis. Dalam hal ini, baik itu strategis dari segi akses transportasi, maupun dari lokasi kerja dan hang out.

Generasi milenial biasanya sangat gemar menghabiskan waktu untuk ngobrol di tempat-tempat cozy bersama teman-teman.

Tentu memiliki apartemen di lokasi yang strategis, akan membuat kita tidak perlu khawatir pulang terlalu malam bila harus berhadapan dengan kemacetan.

"Kita memilih setidaknya paling dekat dengan lokasi aktivitas kita," kata GM Sales and Marketing Synthesis Development Imron Rosyadi kepada Kompas.com, Rabu (7/2/2018).

2. Jangan berpikir hanya untuk dihuni

Dalam jangka waktu tertentu, penghasilan yang kita dapatkan dari kantor tentu akan meningkat. Tentunya, kita berharap dapat membeli hunian baru yang bisa lebih mengakomodir kebutuhan.

Untuk itu, dalam membeli apartemen, jangan hanya berpikir bahwa akan tinggal disana untuk selamanya. Tetapi perlu dipikirkan bila suatu saat akan pindah ke hunian baru yang lebih baik.

"Nah ini (apartemen) bisa kita jual atau disewakan. Kalau lokasinya strategis, tentu akan gampang dijual atau disewakan," kata Imron.

3. Cari pengembang yang miliki rekam jejak jelas

Seringkali dalam membeli sebuah apartemen, tidak akan dijumpai fisiknya secara langsung. Tetapi, calon pembeli harus inden terlebih dahulu, sampai menunggu proses pembangunan jadi dan diserahterimakan.

"Nah ini bisa menimbulkan keraguan," ungkap Imron.

Untuk meminimalisasi hal itu, setidaknya dapat dilakukan dengan memilih properti yang dibangun oleh pengembang yang bonafid.

Untuk mengetahuinya, dapat melalui sejumlah pemberitaan yang telah ditulis media massa.

Dari sana dapat dilihat proyek mana saja yang telah digarap developer, baik yang sedang berproses, maupun yang sudah rampung.

Bila sudah cukup banyak proyek yang rampung, paling tidak developer tersebut bisa menjadi pilihan kita.

4. Lihat peemintaan

Menghapus keraguan terhadap developer, menurut Imron, juga bisa dilihat dari sebesar apa permintaan masyarakat terhadap properti yang mereka tawarkan.

Bila permintaan tinggi, paling tidak arus kas pengembang cukup terjamin untuk menyelesaikan progres konstruksi yang ada.

"Dan berarti kan resiko itu, kita sudah sharing dengan banyak orang. Kalau orang lain sudah berani ambil resiko, kenapa kita enggak," tuntas Imron.